Demam Om Telolet
Om
Awal
mula fenomena ini berawal dari aksi bocah-bocah tanggung di daerah Jawa Timur
dalam memburu bunyi klakson bus yang
terdengar 'telolet' dan merekamnya dengan telepon seluler. Kegiatan anak-anak
tersebut murni hobi untuk mencari kepuasan bathin. Apalagi mendapat suara
telolet yang unik dan sudah dimodifikasi.
Walaupun
matahari sudah terik, udara dipedesaan itu masih saja sangat segar dan
masyarakat pun masih sibuk dengan kegiatannya di tanah lapang persawahan. Namun
Bu Janah sedari tadi bingung mencari anak sulungnya “Sri, Didin kemana, sudah
sejak pagi tadi aku tidak melihat wajahnya?” tanya Bu Janah. “Mas Didin pergi
bersama teman-temannya ke pinggir jalan raya. Katanya sih mau Telolet, Bu,”
jawab Sri. “O alah, Din, Telolet ki panganan opo. Lha, mbok baca sholawat di
rumah bisa untuk sangu akhirat,” jawab Bu Janah.
Bu
Janah pun menyuruh Sri untuk menghampiri Didin dan menyuruhnya pulang. Setelah menemukan
Didin yang sedang asyik berburu Telolet, “Mas, pulang dulu dicari Ibu,” ucap
Sri. “Halah apa to Sri, bali ndisik wae, sedilit neh Mas bali,” jawab Didin
yang masih asyik berburu Telolet sambil memegang kertas yang bertuliskan Om
Telolet Om. “Sri nggak mau pulang kalau Mas juga belum pulang !” ancam Sri. “Iyaiya
ayo bali adiku sing paling ayuuuu,” jawab Didin sambil senyum. Sri dan Didin
pun pulang.
Sesampainya
di rumah “Assalamualaikum Bu, ada apa Bu ?” tanya Didin sambil mencium tangan
Bu Janah. “Waalaikumsalam, kamu itu dari mana Din ? Kok habis mandi langsung
pergi nggak pamit, sarapanmu juga belum di makan di atas meja,” jawab Bu Janah.
“Maaf Bu tadi Didin pergi sama teman-teman untuk...” jawab Didin yang kemudian
dipotong pembicaraannya oleh Bu Janah “Telolet ? Telolet ki apa to? Panganan
enak? Kok sampe sarapanmu aja nggak di makan. Kamu udah bosen sama masakan Ibu
?” “Mboten Bu mboten, Didin nggak pernah bosen sama masakan Ibu,” jawab Didin. “Lah
trus apa?” jawab Bu Janah sedikit kesal. Didin pun akhirnya menjelaskan kepada
Bu Janah “Telolet iku klakson bus
atau truck yang lewat, dan para supir
bakalan bunyiin kalau kita minta sambil teriak Om Telolet Om, sambil bawa
kertas kaya gini Bu,” jawab Didin. “Elah Cah Lanang, daripada gitu mbok ya di
rumah bantu orang tua mu, ngajari adik mu belajar, atau ibadah gawe sangu
akhirat,” jawab Bu Janah karena kesal dengan kegiatan yang dilakukan Didin
tidak masuk akal.
“Lah
trus manfaat kui opo !”lanjut Bu Janah. “Ya Didin kan nggak mau ketinggalan
sama yang lain Bu, Om Telolet Om itu lagi jadi trending topic bahkan sampe luar negeri loh Bu. Jadi Didin nggak
mau kalau dibilang kudet (kurang update),”
jawab Didin. “Le, koe ki wis gedhe. Harusnya tahu mana yang bermanfaat sama
nggak. Boleh kamu ikut perkembangan zaman, tapi ya itu harus bisa bedain itu
bermanfaat atau nggak buat kamu. Lah coba kalau kaya gitu kamu teriak-teriak,
capek, kepanasan, bahaya, kelaperan juga to Cah Bagus? Mending di rumah
ngerjain yang ada manfaatnya.” Jawab Bu Janah sambil menasehati Didin. “Iya Bu,
maafin Didin ya,” jawab Didin. Bu Janah tersenyum, Didin pun berjanji untuk tidak
mengulangi kembali.
Ya, terima kasih.
BalasHapus